|
3. Batak Karo : mendiami Kabupaten Karo, Langkat
dan sebagian Aceh dan menggunakan bahasa Batak Karo
4. Batak Mandailing : mendiami Kabupaten Tapanuli
Selatan, Wilayah Pakantan dan Muara Sipongi dan menggunakan
bahasa Batak Mandailing
5. Batak Pakpak : mendiami Kabupaten Dairi,
dan Aceh Selatan dan menggunakan bahasa Pakpak.
Dalam
buku ANEKA RAGAM BUDAYA BATAK [Seri Dolok Pusuk Buhit-10]
terbitan YAYASAN BINABUDAYA NUSANTARA TAOTOBA NUSABUDAYA,
2000 hal 31, menyebutkan bahwa etnis Batak bukan hanya
5, akan tetapi sesungguhnya ada 11 [sebelas], ke 6
etnis batak lainnya tsb adalah :
NO
Nama sub etnis - Wilayah yang dihuni
1.
Batak PASISIR Pantai Barat antara Natal dan
Singkil
2. Batak ANGKOLA Wilayah Sipirok dan P. Sidempuan
3. Batak PADANGLAWAS Wil. Sibuhuan, A.Godang,
Rambe,Harahap
4. Batak MELAYU WiL Pesisir Timur Melayu
5. Batak NIAS Kab/Pulau Nias dan sekitarnya
6. Batak ALAS GAYO Aceh Selatan,Tenggara, dan
Tengah
Suku
Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan
bahwa mereka bukanlah orang Batak karena nenek moyang
mereka bukan berasal dari Tanah Batak. Namun demikian,
mereka mempunyai marga marga seperti halnya orang
Batak.
Yang
disebut wilayah Tanah Batak atau Tano Batak ialah
daerah hunian sekeliling Danau Toba, Sumatera Utara.
Seandainya tidak mengikuti pembagian daerah oleh Belanda
[politik devide et impera] seperti sekarang, Tanah
Batak konon masih sampai di Aceh Selatan dan Aceh
Tenggara.
MARGA
dan TAROMBO
MARGA
adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan
ayah (patrilineal). Sistem kekerabatan patrilineal
menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan
anak laki laki. Seorang Batak merasa hidupnya lengkap
jika ia telah memiliki anak laki laki yang meneruskan
marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini,
dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut
Dongan Tubu. Menurut buku "Leluhur Marga Marga Batak",
jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk
marga suku Nias.
TAROMBO
adalah silsilah, asal usul menurut garis keturunan
ayah. Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya
dalam marga. Bila orang Batak berkenalan pertama kali,
biasanya mereka saling tanya Marga dan Tarombo. Hal
tersebut dilakukan untuk saling mengetahui apakah
mereka saling "mardongan sabutuha" (semarga) dengan
panggilan "ampara" atau "marhula-hula" dengan panggilan
"lae/tulang". Dengan tarombo, seseorang mengetahui
apakah ia harus memanggil "Namboru" (adik perempuan
ayah/bibi), "Amangboru/Makela",(suami dari adik ayah/Om)"Bapatua/Amanganggi/Amanguda"
(abang/adik ayah), "Ito/boto" (kakak/adik), PARIBAN
atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu)
yang dapat kita jadikan istri, dst.
|