|

|
Kopi
memiliki istilah yang berbeda-beda. Pada masyarakat
Indonesia lebih akrab dengan sebutan kopi,
di Inggris dikenal coffee, Prancis menyebutnya
cafe, Jerman menjulukinya kaffee,
dalam bahasa Arab dinamakan quahwa.
Sejarah
kopi diawali dari cerita seorang penggembala
kambing Abessynia yang menemukan tumbuhan kopi
sewaktu ia menggembala, hingga menjadi minuman
bergengsi para aristokrat di Eropa. Bahkan oleh
Bethoven menghitung sebanyak 60 biji kopi untuk
setiap cangkir kopi yang mau dinikmatinya.
|
Sejak
penemuan tumbuhan kopi tersebut kemudian seorang sufi
Ali Bin Omar dari Yaman menjadikan rebusan kopi sebagai
obat penyakit kulit dan obat-obatan lainnya. Sehingga
pada waktu itu kopi mendapat tempat terhormat di kalangan
masyarakat negeri itu. Dari khasiat kopi tersebut akhirnya
membawa kemakmuran bagi pemilik-pemilik kebun kopi,
pengusaha kedai kopi, pedagang kopi, eksportir kopi,
dan pemerintah di berbagai belahan dunia tanaman minuman
beraroma khas itu ditanam.
Banyaknya
khasiat yang didapat dari kopi, sehingga penyebarannya
cukup pesat terutama di benua Eropa. Di Salerno, Italia,
kopi telah dikenal pada abad kesepuluh. Setelah itu
berlanjut dengan pembukaan kedai kopi bernama Botega
Delcafe pada tahun 1645 yang kemudian menjadi pusat
pertemuan cerdik pandai di negara pizza tersebut.
Di
Kota London, coffee house pertama dibuka di George Yard
di Lombat Sreet dan di Paris, kedai kopi dibuka pada
tahun 1671 di Saint Germain Fair. Sedangkan di Amerika,
kopi dijadikan sebagai minuman nasional di Amerika Serikat
dan menjadi menu utama di meja-meja makan pagi. Meskipun
perkembangan kopi begitu pesat pada abad-abad itu tetapi
orang-orang Arab telah lebih dulu memonopolinya sebagai
tanaman, dan mereka hanya mengekspor kopi yang sudah
digoreng atau digonseng.
Sedangkan
penyebaran tumbuhan kopi ke Indonesia dibawa seorang
berkebangsaan Belanda pada abad ke-17 sekitar tahun
1646 yang mendapatkan biji arabika mocca dari Arabia
ke Jakarta. Kopi arabika pertama-tama ditanam dan dikembangkan
di sebuah tempat di timur Jatinegara, yang menggunakan
tanah partikelir Kesawung yang kini lebih dikenal Pondok
Kopi.
Kemudian
kopi arabika menyebar ke berbagai daerah di Jawa Barat,
seperti Bogor, Sukabumi, Banten, dan Priangan, melalui
sistem tanam paksa. Setelah menyebar ke Pulau Jawa,
tanaman kopi kemudian menyebar ke daerah lain, seperti
Pulau Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Timor. "Bahkan kopi
arabika yang semula ditanam di Brasil (negara produsen
kopi terbesar di dunia) konon bibitnnya berasal dari
Pulau Jawa," ungkap Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD)
Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Timur
Mudrig Yahmadi.
Dalam
sejarahnya, Indonesia bahkan pernah menjadi produsen
kopi arabika terbesar di dunia, walaupun tidak lama
akibat munculnya serangan hama karat daun. Serangan
hama yang disebabkan cendawan hemileia vastatrix
tersebut menyerang tanaman kopi di Indonesia sekitar
abad ke-19.
Meskipun
demikian, sisa tanaman kopi arabika masih dijumpai di
kantong penghasil kopi di Indonesia, antara lain dataran
tinggi Ijen (Jatim), tanah tinggi Toraja (Sulsel), serta
lereng bagian atas pegunungan Bukit Barisan (Sumatera),
seperti Mandailing, Lintong dan Sidikalang (Sumut) serta
dataran tinggi Gayo (DI Aceh).
Perjalanan
kopi bukan begitu saja menjadi salah satu minuman dunia
yang disenangi. Di Italia, pendeta-pendeta melarang
umatnya minum kopi dan menyatakan bahwa minuman kopi
itu dimasukkan sultan-sultan muslim untuk menggantikan
anggur. Bukan hanya melarang tetapi juga menghukum orang-orang
yang minum kopi.
Bahkan,
tahun 1656, Wazir dan Kofri, Kerajaan Usmaniyah, mengeluarkan
larangan untuk membuka kedai-kedai kopi. Bukan hanya
melarang kopi, tetapi menghukum orang-orang yang minum
kopi dengan hukuman cambuk pada pelanggaran pertama.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, pelarangan minum kopi
di Timur Tengah lambat-laun terkikis, sehingga jika
seorang suami melarang istrinya minum kopi, si istri
tersebut bisa memakai alasan ini untuk minta cerai.
Di
Swedia, konon Raja Gustaff ke II pernah menjatuhkan
hukuman terhadap dua orang saudara kembar. Yang satu
hanya dizinkan meminum kopi dan yang satu lagi diizinkan
hanya teh. Siapa yang terlebih dahulu mati, maka dialah
yang bersalah dalam satu tindak pidana yang dituduhkan
terhadap mereka. Ternyata yang mati duluan adalah peminum
teh pada usia 83 tahun.
Sejak
itu orang-orang Swedia berbalik menjadi peminum kopi
paling fanatik yang ada di dunia, sehingga sampai sekarang
negara-negara Skandinavia kini peminum kopi tertinggi
per kapita di dunia. Setiap orang bisa menghabiskan
12 kg lebih per tahun dibanding dengan di Indonesia
yang hanya 0,6 kg per tahun.
Begitu
bergengsinya minuman kopi ini, hingga Raja Frederick
Agung dari Rusia pada tahun 1777 hanya memperbolehkan
kalangan atas atau kelas bangsawan saja untuk menunjukkan
kearistokratan kopi.
(dari berbagai sumber)
|